Rabu, 04 Agustus 2010

Jumlah Rakaat Shalat Dhuha yang Afdhal?

Jumlah Rakaat Shalat Dhuha yang Afdhal?




Dari saudara Sudirman Sp alamat: Raha Sultra HP: 081355874xxx.



Pertanyaan:



Assalamu ‘alaikum, mau tanya, kalau shalat dhuha yang paling baik yang mana? Apa dua rakaat atau empat rakaat dengan satu kali salam atau empat rakaat dengan dua kali salam?Jawaban:



Wa ‘alaikumussalaam warahmatullahi Wa barakatuh.Bismillah, alhamdulillah Wash Shalaatu Was Salaamu ‘alaa rasuulillah, Ammaa ba’d.



Berdasarkan hadits-hadits yang shahih dapat disimpulkan bahwa shalat dhuha dapat dikerjakan dengan dua, empat, enam, delapan atau dua belas raka’at.



Adapun shalat dhuha yang dilakukan dua rakaat telah dijelaskan oleh hadits yang diriwayatkan oleh Al Imam Muslim dari Abu Dzar radhiyallaahu ‘anhu, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:



يصبح على كلّ سلاملى من أحدكم صدقة ….. ويجزىء من ذلك ركعتان يركعهما من الضّحى .

“Bagi tiap-tiap ruas dari anggota tubuh salah seorang dari kalian harus dikeluarkan shadaqah . . . . , Dan semua itu dapat diwakili oleh dua rakaat shalat dhuha”. (HR Muslim).



Sedangkan shalat dhuha yang dilakukan empat rakaat telah ditunjukkan oleh hadits Abu Darda dan Abu Dzar radhiyallaahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dari Allah Yang Maha perkasa lagi Maha Mulia, Dia berfirman:



ابن آدم ! اركع لي من أوّل النّهار أربع ركعات , أكفيك آخره

Umar bin Khattab, sebuah fakta sejarah pada masa kejayaan Islam

Seorang pemuda yang gagah perkasa berjalan dengan langkah yang mantap mencari Nabi hendak membunuhnya. Ia sangat membenci Nabi, dan agama baru yang dibawanya. Di tengah perjalanan ia bertemu dengan seseorang yang bernama Naim bin Abdullah yang menanyakan tujuan perjalanannya tersebut. Kemudian diceritakannya niatnya itu. Dengan mengejek, Naim mengatakan agar ia lebih baik memperbaiki urusan rumah tangganya sendiri terlebih dahulu. Seketika itu juga pemuda itu kembali ke rumah dan mendapatkan ipar lelakinya sedang asyik membaca kitab suci Al-Qur’an. Langsung sang ipar dipukul dengan ganas, pukulan yang tidak membuat ipar maupun adiknya meninggalkan agama Islam. Pendirian adik perempuannya yang teguh itu akhirnya justru menentramkan hatinya dan malahan ia memintanya membaca kembali baris-baris Al-Qur’an. Permintaan tersebut dipenuhi dengan senang hati. Kandungan arti dan alunan ayat-ayat Kitabullah ternyata membuat si pemuda itu begitu terpesonanya, sehingga ia bergegas ke rumah Nabi dan langsung memeluk agama Islam. Begitulah pemuda yang bernama Umar bin Khattab, yang sebelum masuk Islam dikenal sebagai musuh Islam yang berbahaya. Dengan rahmat dan hidayah Allah, Islam telah bertambah kekuatannya dengan masuknya seorang pemuda yang gagah perkasa. Ketiga bersaudara itu begitu gembiranya, sehingga mereka secara spontan mengumandangkan “Allahu Akbar” (Allah Maha Besar). Gaungnya bergema di pegunungan di sekitarnya.
Umar masuk agama Islam pada usia 27 tahun. Beliau dilahirkan di Makkah, 40 tahun sebelum hijrah. Silsilahnya berkaitan dengan garis keturunan Nabi pada generasi ke delapan. Moyangnya memegang jabatan duta besar dan leluhurnya adalah pedagang. Ia salah satu dari 17 orang Makkah yang terpelajar ketika kenabian dianugerahkan kepada Muhammad SAW.
Dengan masuknya Umar ke dalam agama Islam, kekuatan kaum Muslimin makin bertambah tangguh. Ia kemudian menjadi penasehat utama Abu Bakar selama masa pemerintahan dua setengah tahun. Ketika Abu Bakar mangkat, ia dipilih menjadi khalifah Islam yang kedua, jabatan yang diembannya dengan sangat hebat selama sepuluh setengah tahun. Ia meninggal pada tahun 644 M, dibunuh selagi menjadi imam sembahyang di masjid Nabi. Pembunuhnya bernama Feroz alias Abu Lu’lu, seorang Majusi yang tidak puas.
Ajaran-ajaran Nabi telah mengubah suku-suku bangsa Arab yang suka berperang menjadi bangsa yang bersatu, dan merupakan suatu revolusi terbesar dalam sejarah manusia. Dalam masa tidak sampai 30 tahun, orang-orang Arab yang suka berkelana telah menjadi tuan sebuah kerajaan terbesar di waktu itu. Prajurit-prajuritnya melanda tiga benua terkenal di dunia, dan dua kerajaan besar Caesar (Romawi) dan Chesroes (Parsi) bertekuk lutut di hadapan pasukan Islam yang perkasa. Nabi telah meninggalkan sekelompok orang yang tidak mementingkan diri, yang telah mengabdikan dirinya kepada satu tujuan, yakni berbakti kepada agama yang baru itu. Salah seorang di antaranya adalah Umar al-Faruq, seorang tokoh besar, di masa perang maupun di waktu damai. Tidak banyak tokoh dalam sejarah manusia yang telah menunjukkan kepintaran dan kebaikan hati yang melebihi Umar, baik sebagai pemimpin tentara di medan perang, maupun dalam mengemban tugas-tugas terhadap rakyat serta dalam hak ketaatan kepada keadilan. Kehebatannya terlihat juga dalam mengkonsolidasikan negeri-negeri yang telah di taklukkan.
Islam sempat dituduh menyebarluaskan dirinya melalui ujung pedang. Tapi riset sejarah modern yang dilakukan kemudian membuktikan bahwa perang yang dilakukan orang Muslim selama kekhalifahan Khulafaurrosyidin adalah untuk mempertahankan diri.

Sejarawan Inggris, Sir William Muir, melalui bukunya yang termasyur, Rise, Decline and Fall of the Caliphate, mencatat bahwa setelah penaklukan Mesopotamia, seorang jenderal Arab bernama Zaid memohon izin Khalifah Umar untuk mengejar tentara Parsi yang melarikan diri ke Khurasan. Keinginan jenderalnya itu ditolak Umar dengan berkata, “Saya ingin agar antara Mesopotamia dan negara-negara di sekitar pegunungan-pegunungan menjadi semacam batas penyekat, sehingga orang-orang Parsi tidak akan mungkin menyerang kita. Demikian pula kita, kita tidak bisa menyerang mereka. Dataran Irak sudah memenuhi keinginan kita. Saya lebih menyukai keselamatan bangsaku dari pada ribuan barang rampasan dan melebarkan wilayah penaklukkan. Muir mengomentarinya demikian: “Pemikiran melakukan misi yang meliputi seluruh dunia masih merupakan suatu embrio, kewajiban untuk memaksakan agama Islam melalui peperangan belum lagi timbul dalam pikiran orang Muslimin.”
Umar adalah ahli strategi militer yang besar. Ia mengeluarkan perintah operasi militer secara mendetail. Pernah ketika mengadakan operasi militer untuk menghadapi kejahatan orang-orang Parsi, beliau yang merancang kopmposisi pasukan Muslim, dan mengeluarkan perintah dengan detailnya. Saat beliau menerima khabar hasil pertempurannya beliau ingin segera menyampaikan berita gembira atas kemenangan tentara kaum Muslimin kepada penduduk, lalu Khalifah Umar berpidato di hadapan penduduk Madinah: “Saudara-saudaraku! Aku bukanlah rajamu yang ingin menjadikan Anda budak. Aku adalah hamba Allah dan pengabdi hamba-Nya. Kepadaku telah dipercayakan tanggung jawab yang berat untuk menjalankan pemerintahan khilafah. Adalah tugasku membuat Anda senang dalam segala hal, dan akan menjadi hari nahas bagiku jika timbul keinginan barang sekalipun agar Anda melayaniku. Aku berhasrat mendidik Anda bukan melalui perintah-perintah, tetapi melalui perbuatan.”
Pada tahun 634 M, pernah terjadi pertempuran dahsyat antara pasukan Islam dan Romawi di dataran Yarmuk. Pihak Romawi mengerahkan 300.000 tentaranya, sedangkan tentara Muslimin hanya 46.000 orang. Walaupun tidak terlatih dan berperlengkapan buruk, pasukan Muslimin yang bertempur dengan gagah berani akhirnya berhasil mengalahkan tentara Romawi. Sekitar 100.000 orang serdadu Romawi tewas sedangkan di pihak Muslimin tidak lebih dari 3000 orang yang tewas dalam pertempuran itu. Ketika Caesar diberitakan dengan kekalahan di pihaknya, dengan sedih ia berteriak: “Selamat tinggal Syria,” dan dia mundur ke Konstantinopel.
Beberapa prajurit yang melarikan diri dari medan pertempuran Yarmuk, mencari perlindungan di antara dinding-dinding benteng kota Yerusalem. Kota dijaga oleh garnisun tentara yang kuat dan mereka mampu bertahan cukup lama. Akhirnya uskup agung Yerusalem mengajak berdamai, tapi menolak menyerah kecuali langsung kepada Khalifah sendiri. Umar mengabulkan permohonan itu, menempuh perjalanan di Jabia tanpa pengawalan dan arak-arakan kebesaran, kecuali ditemani seorang pembantunya. Ketika Umar tiba di hadapan uskup agung dan para pembantunya, Khalifah menuntun untanya yang ditunggangi pembantunya. Para pendeta Kristen lalu sangat kagum dengan sikap rendah hati Khalifah Islam dan penghargaannya pada persamaan martabat antara sesama manusia. Uskup agung dalam kesempatan itu menyerahkan kunci kota suci kepada Khalifah dan kemudian mereka bersama-sama memasuki kota. Ketika ditawari bersembahyang di gereja Kebaktian, Umar menolaknya dengan mengatakan: “Kalau saya berbuat demikian, kaum Muslimin di masa depan akan melanggar perjanjian ini dengan alasan mengikuti contoh saya.” Syarat-syarat perdamaian yang adil ditawarkan kepada orang Kristen. Sedangkan kepada orang-orang Yahudi, yang membantu orang Muslimin, hak milik mereka dikembalikan tanpa harus membayar pajak apa pun.
Penaklukan Syria sudah selesai. Seorang sejarawan terkenal mengatakan: “Syria telah tunduk pada tongkat kekuasaan Khalifah, 700 tahun setelah Pompey menurunkan tahta raja terakhir Macedonia. Setelah kekalahannya yang terakhir, orang Romawi mengaku takluk, walaupun mereka masih terus menyerang daerah-daerah Muslimin. Orang Romawi membangun sebuah rintangan yang tidak bisa dilalui, antara daerahnya dan daerah orang Muslim. Mereka juga mengubah sisa tanah luas miliknya di perbatasan Asia menjadi sebuah padang pasir. Semua kota di jalur itu dihancurkan, benteng-benteng dibongkar, dan penduduk dipaksa pindah ke wilayah yang lebih utara. Demikianlah keadaannya apa yang dianggap sebagai perbuatan orang Arab Muslim yang biadab sesungguhnya hasil kebiadaban Byzantium.” Namun kebijaksanaan bumi hangus yang sembrono itu ternyata tidak dapat menghalangi gelombang maju pasukan Muslimin. Dipimpin Ayaz yang menjadi panglima, tentara Muslim melewati Tarsus, dan maju sampai ke pantai Laut Hitam.
Menurut sejarawan terkenal, Baladhuri, tentara Islam seharusnya telah mencapai Dataran Debal di Sind. Tapi, kata Thabari, Khalifah menghalangi tentaranya maju lebih ke timur dari Mekran.
Suatu penelitian pernah dilakukan untuk menunjukkan faktor-faktor yang menentukan kemenangan besar operasai militer Muslimin yang diraih dalam waktu yang begitu singkat. Kita ketahui, selama pemerintahan khalifah yang kedua, orang Islam memerintah daerah yang sangat luas. Termasuk di dalamnya Syria, Mesir, Irak, Parsi, Khuzistan, Armenia, Azerbaijan, Kirman, Khurasan, Mekran, dan sebagian Baluchistan. Pernah sekelompok orang Arab yang bersenjata tidak lengkap dan tidak terlatih berhasil menggulingkan dua kerajaan yang paling kuat di dunia. Apa yang memotivasikan mereka? Ternyata, ajaran Nabi SAW. telah menanamkan semangat baru kepada pengikut agama baru itu. Mereka merasa berjuang hanya demi Allah semata. Kebijaksanaan khalifah Islam kedua dalam memilih para jenderalnya dan syarat-syarat yang lunak yang ditawarkan kepada bangsa-bangsa yang ditaklukan telah membantu terciptanya serangkaian kemenangan bagi kaum Muslimin yang dicapai dalam waktu sangat singkat.
Bila diteliti kitab sejarah Thabari, dapat diketahui bahwa Umar al-Faruq, kendati berada ribuan mil dari medan perang, berhasil menuntun pasukannya dan mengawasi gerakan pasukan musuh. Suatu kelebihan anugerah Allah yang luar biasa. Dalam menaklukan musuhnya, khalifah banyak menekankan pada segi moral, dengan menawarkan syarat-syarat yang lunak, dan memberikan mereka segala macam hak yang bahkan dalam abad modern ini tidak pernah ditawarkan kepada suatu bangsa yang kalah perang. Hal ini sangat membantu memenangkan simpati rakyat, dan itu pada akhirnya membuka jalan bagi konsolidasi administrasi secara efisien. Ia melarang keras tentaranya membunuh orang yang lemah dan menodai kuil serta tempat ibadah lainnya. Sekali suatu perjanjian ditandatangani, ia harus ditaati, yang tersurat maupun yang tersirat.
Berbeda dengan tindakan penindasan dan kebuasan yang dilakukan Alexander, Caesar, Atilla, Ghengiz Khan, dan Hulagu. Penaklukan model Umar bersifat badani dan rohani.
Ketika Alexander menaklukan Sur, sebuah kota di Syria, dia memerintahkan para jenderalnya melakukan pembunuhan massal, dan menggantung seribu warga negara terhormat pada dinding kota. Demikian pula ketika dia menaklukan Astakher, sebuah kota di Parsi, dia memerintahkan memenggal kepala semua laki-laki. Raja lalim seperti Ghengiz Khan, Atilla dan Hulagu bahkan lebih ganas lagi. Tetapi imperium mereka yang luas itu hancur berkeping-keping begitu sang raja meninggal. Sedangkan penaklukan oleh khalifah Islam kedua berbeda sifatnya. Kebijaksanaannya yang arif, dan administrasi yang efisien, membantu mengonsolidasikan kerajaannya sedemikian rupa. Sehingga sampai masa kini pun, setelah melewati lebih dari 1.400 tahun, negara-negara yang ditaklukannya masih berada di tangan orang Muslim. Umar al-Faruk sesungguhnya penakluk terbesar yang pernah dihasilkan sejarah.Sifat mulia kaum Muslimin umumnya dan Khalifah khususnya, telah memperkuat kepercayaan kaum non Muslim pada janji-janji yang diberikan oleh pihak Muslimin. Suatu ketika, Hurmuz, pemimpin Parsi yang menjadi musuh bebuyutan kaum Muslimin, tertawan di medan perang dan di bawa menghadap Khalifah di Madinah. Ia sadar kepalanya pasti akan dipenggal karena dosanya sebagai pembunuh sekian banyak orang kaum Muslimin. Dia tampaknya merencanakan sesuatu, dan meminta segelas air. Permohonannya dipenuhi, tapi anehnya ia tidak mau minum air yang dihidangkan. Dia rupanya merasa akan dibunuh selagi mereguk minuman, Khalifah meyakinkannya, dia tidak akan dibunuh kecuali jika Hurmuz meminum air tadi. Hurmuz yang cerdik seketika itu juga membuang air itu. Ia lalu berkata, karena dia mendapatkan jaminan dari Khalifah, dia tidak akan minum air itu lagi. Khalifah memegang janjinya. Hurmuz yang terkesan dengan kejujuran Khalifah, akhirnya masuk Islam.
Khalifah Umar pernah berkata, “Kata-kata seorang Muslim biasa sama beratnya dengan ucapan komandannya atau khalifahnya.” Demokrasi sejati seperti ini diajarkan dan dilaksanakan selama kekhalifahan ar-rosyidin hampir tidak ada persamaannya dalam sejarah umat manusia. Islam sebagai agama yang demokratis, seperti digariskan Al-Qur’an, dengan tegas meletakkan dasar kehidupan demokrasi dalam kehidupan Muslimin, dan dengan demikian setiap masalah kenegaraan harus dilaksanakan melalui konsultasi dan perundingan. Nabi SAW. sendiri tidak pernah mengambil keputusan penting tanpa melakukan konsultasi. Pohon demokrasi dalam Islam yang ditanam Nabi dan dipelihara oleh Abu Bakar mencapai puncaknya pada jaman Khalifah Umar. Semasa pemerintahan Umar telah dibentuk dua badan penasehat. Badan penasehat yang satu merupakan sidang umum yang diundang bersidang bila negara menghadapi bahaya. Sedang yang satu lagi adalah badan khusus yang terdiri dari orang-orang yang integritasnya tidak diragukan untuk diajak membicarakan hal rutin dan penting. Bahkan masalah pengangkatan dan pemecatan pegawai sipil serta lainnya dapat dibawa ke badan khusus ini, dan keputusannya dipatuhi.
Umar hidup seperti orang biasa dan setiap orang bebas menanyakan tindakan-tindakannya. Suatu ketika ia berkata: “Aku tidak berkuasa apa pun terhadap Baitul Mal (harta umum) selain sebagai petugas penjaga milik yatim piatu. Jika aku kaya, aku mengambil uang sedikit sebagai pemenuh kebutuhan sehari-hari. Saudara-saudaraku sekalian! Aku abdi kalian, kalian harus mengawasi dan menanyakan segala tindakanku. Salah satu hal yang harus diingat, uang rakyat tidak boleh dihambur-hamburkan. Aku harus bekerja di atas prinsip kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.”
Suatu kali dalam sebuah rapat umum, seseorang berteriak: “O, Umar, takutlah kepada Tuhan.” Para hadirin bermaksud membungkam orang itu, tapi Khalifah mencegahnya sambil berkata: “Jika sikap jujur seperti itu tidak ditunjukan oleh rakyat, rakyat menjadi tidak ada artinya. Jika kita tidak mendengarkannya, kita akan seperti mereka.” Suatu kebebasan menyampaikan pendapat telah dipraktekan dengan baik.
Ketika berpidato suatu kali di hadapan para gubernur, Khalifah berkata: “Ingatlah, saya mengangkat Anda bukan untuk memerintah rakyat, tapi agar Anda melayani mereka. Anda harus memberi contoh dengan tindakan yang baik sehingga rakyat dapat meneladani Anda.”
Pada saat pengangkatannya, seorang gubernur harus menandatangani pernyataan yang mensyaratkan bahwa “Dia harus mengenakan pakaian sederhana, makan roti yang kasar, dan setiap orang yang ingin mengadukan suatu hal bebas menghadapnya setiap saat.” Menurut pengarang buku Futuhul-Buldan, di masa itu dibuat sebuah daftar barang bergerak dan tidak bergerak begitu pegawai tinggi yang terpilih diangkat. Daftar itu akan diteliti pada setiap waktu tertentu, dan penguasa tersebut harus mempertanggung-jawabkan terhadap setiap hartanya yang bertambah dengan sangat mencolok. Pada saat musim haji setiap tahunnya, semua pegawai tinggi harus melapor kepada Khalifah. Menurut penulis buku Kitab ul-Kharaj, setiap orang berhak mengadukan kesalahan pejabat negara, yang tertinggi sekalipun, dan pengaduan itu harus dilayani. Bila terbukti bersalah, pejabat tersebut mendapat ganjaran hukuman.
Muhammad bin Muslamah Ansari, seorang yang dikenal berintegritas tinggi, diangkat sebagai penyelidik keliling. Dia mengunjungi berbagai negara dan meneliti pengaduan masyarakat. Sekali waktu, Khalifah menerima pengaduan bahwa Sa’ad bin Abi Waqqash, gubernur Kufah, telah membangun sebuah istana. Seketika itu juga Umar memutus Muhammad Ansari untuk menyaksikan adanya bagian istana yang ternyata menghambat jalan masuk kepemukiman sebagian penduduk Kufah. Bagian istana yang merugikan kepentingan umum itu kemudian dibongkar. Kasus pengaduan lainnya menyebabkan Sa’ad dipecat dari jabatannya.
Seorang sejarawan Eropa menulis dalam The Encyclopedia of Islam: “Peranan Umar sangatlah besar. Pengaturan warganya yang non-Muslim, pembentukan lembaga yang mendaftar orang-orang yang mendapat hak untuk pensiun tentara (divan), pengadaan pusat-pusat militer (amsar) yang dikemudian hari berkembang menjadi kota-kota besar Islam, pembentukan kantor kadi (qazi), semuanya adalah hasil karyanya. Demikian pula seperangkat peraturan, seperti sembahyang tarawih di bulan Ramadhan, keharusan naik haji, hukuman bagi pemabuk, dan hukuman pelemparan dengan batu bagi orang yang berzina.”
Khalifah menaruh perhatian yang sangat besar dalam usaha perbaikan keuangan negara, dengan menempatkannya pada kedudukan yang sehat. Ia membentuk “Diwan” (departemen keuangan) yang dipercayakan menjalankan administrasi pendapatan negara.
Pendapatan persemakmuran berasal dari sumber :
Zakat atau pajak yang dikenakan secara bertahap terhadap Muslim yang berharta. Kharaj atau pajak bumi Jizyah atau pajak perseorangan. Dua pajak yang disebut terakhir, yang membuat Islam banyak dicerca oleh sejarawan Barat, sebenarnya pernah berlaku di kerajaan Romawi dan Sasanid (Parsi). Pajak yang dikenakan pada orang non Muslim jauh lebih kecil jumlahnya dari pada yang dibebankan pada kaum Muslimin. Khalifah menetapkan pajak bumi menurut jenis penggunaan tanah yang terkena. Ia menetapkan 4 dirham untuk satu Jarib gandum. Sejumlah 2 dirham dikenakan untuk luas tanah yang sama tapi ditanami gersb (gandum pembuat ragi). Padang rumput dan tanah yang tidak ditanami tidak dipungut pajak. Menurut sumber-sumber sejarah yang dapat dipercaya, pendapatan pajak tahunan di Irak berjumlah 860 juta dirham. Jumlah itu tak pernah terlampaui pada masa setelah wafatnya Umar.
Ia memperkenalkan reform (penataan) yang luas di lapangan pertanian, hal yang bahkan tidak terdapat di negara-negara berkebudayaan tinggi di zaman modern ini. Salah satu dari reform itu ialah penghapusan zamindari (tuan tanah), sehingga pada gilirannya terhapus pula beban buruk yang mencekik petani penggarap. Ketika orang Romawi menaklukkan Syria dan Mesir, mereka menyita tanah petani dan membagi-bagikannya kepada anggota tentara, kaum ningrat, gereja, dan anggota keluarga kerajaan.
Sejarawan Perancis mencatat: “Kebijaksanaan liberal orang Arab dalam menentukan pajak dan mengadakan land reform sangat banyak pengaruhnya terhadap berbagai kemenangan mereka di bidang kemiliteran.”
Ia membentuk departemen kesejahteraan rakyat, yang mengawasi pekerjaan pembangunan dan melanjutkan rencana-rencana. Sejarawan terkenal Allamah Maqrizi mengatakan, di Mesir saja lebih dari 20.000 pekerja terus-menerus dipekerjakan sepanjang tahun. Sejumlah kanal di bangun di Khuzistan dan Ahwaz selama masa itu. Sebuah kanal bernama “Nahr Amiril Mukminin,” yang menghubungkan Sungai Nil dengan Laut Merah, dibangun untuk menjamin pengangkutan padi secara cepat dari Mesir ke Tanah Suci.
Selama masa pemerintahan Umar diadakan pemisahan antara kekuasaan pengadilan dan kekuasaan eksekutif. Von Hamer mengatakan, “Dahulu hakim diangkat dan sekarang pun masih diangkat. Hakim ush-Shara ialah penguasa yang ditetapkan berdasarkan undang-undang, karena undang-undang menguasai seluruh keputusan pengadilan, dan para gubernur dikuasakan menjalankan keputusan itu. Dengan demikian dengan usianya yang masih sangat muda, Islam telah mengumandangkan dalam kata dan perbuatan, pemisahan antara kekuasaan pengadilan dan kekuasaan eksekutif.” Pemisahan seperti itu belum lagi dicapai oleh negara-negara paling maju, sekalipun di zaman modern ini.
Umar sangat tegas dalam penegakan hukum yang tidak memihak dan tidak pandang bulu. Suatu ketika anaknya sendiri yang bernama Abu Syahma, dilaporkan terbiasa meminum khamar. Khalifah memanggilnya menghadap dan ia sendiri yang mendera anak itu sampai meninggal. Cemeti yang dipakai menghukum Abu Syahma ditancapkan di atas kuburan anak itu.
Kebesaran Khalifah Umar juga terlihat dalam perlakuannya yang simpatik terhadap warganya yang non Muslim. Ia mengembalikan tanah-tanah yang dirampas oleh pemerintahan jahiliyah kepada yang berhak yang sebagian besar non Muslim. Ia berdamai dengan orang Kristen Elia yang menyerah. Syarat-syarat perdamaiannya ialah: “Inilah perdamaian yang ditawarkan Umar, hamba Allah, kepada penduduk Elia. Orang-orang non Muslim diizinkan tinggal di gereja-gereja dan rumah-rumah ibadah tidak boleh dihancurkan. Mereka bebas sepenuhnya menjalankan ibadahnya dan tidak dianiaya dengan cara apa pun.” Menurut Imam Syafi’i ketika Khalifah mengetahui seorang Muslim membunuh seorang Kristen, ia mengijinkan ahli waris almarhum menuntut balas. Akibatnya, si pembunuh dihukum penggal kepala.
Khalifah Umar juga mengajak orang non Muslim berkonsultasi tentang sejumlah masalah kenegaraan. Menurut pengarang Kitab al-Kharaj, dalam wasiatnya yang terakhir Umar memerintahkan kaum Muslimin menepati sejumlah jaminan yang pernah diberikan kepada non Muslim, melindungi harta dan jiwanya, dengan taruhan jiwa sekalipun. Umar bahkan memaafkan penghianatan mereka, yang dalam sebuah pemerintahan beradab di zaman sekarang pun tidak akan mentolerirnya. Orang Kristen dan Yahudi di Hems bahkan sampai berdoa agar orang Muslimin kembali ke negeri mereka. Khalifah memang membebankan jizyah, yaitu pajak perlindungan bagi kaum non Muslim, tapi pajak itu tidak dikenakan bagi orang non Muslim, yang bergabung dengan tentara Muslimin.
Khalifah sangat memperhatikan rakyatnya, sehingga pada suatu ketika secara diam-diam ia turun berkeliling di malam hari untuk menyaksikan langsung keadaan rakyatnya. Pada suatu malam, ketika sedang berkeliling di luar kota Madinah, di sebuah rumah dilihatnya seorang wanita sedang memasak sesuatu, sedang dua anak perempuan duduk di sampingnya berteriak-teriak minta makan. Perempuan itu, ketika menjawab Khalifah, menjelaskan bahwa anak-anaknya lapar, sedangkan di ceret yang ia jerang tidak ada apa-apa selain air dan beberapa buah batu. Itulah caranya ia menenangkan anak-anaknya agar mereka percaya bahwa makanan sedang disiapkan. Tanpa menunjukan identitasnya, Khalifah bergegas kembali ke Madinah yang berjarak tiga mil. Ia kembali dengan memikul sekarung terigu, memasakkannya sendiri, dan baru merasa puas setelah melihat anak-anak yang malang itu sudah merasa kenyang. Keesokan harinya, ia berkunjung kembali, dan sambil meminta maaf kepada wanita itu ia meninggalkan sejumlah uang sebagai sedekah kepadanya.
Khalifah yang agung itu hidup dengan cara yang sangat sederhana. Tingkat kehidupannya tidak lebih tinggi dari kehidupan orang biasa. Suatu ketika Gubernur Kufah mengunjunginya sewaktu ia sedang makan. Sang gubernur menyaksikan makanannya terdiri dari roti gersh dan minyak zaitun, dan berkata, “Amirul mukminin, terdapat cukup di kerajaan Anda; mengapa Anda tidak makan roti dari gandum?” Dengan agak tersinggung dan nada murung, Khalifah bertanya, “Apakah Anda pikir setiap orang di kerajaanku yang begitu luas bisa mendapatkan gandum?” “Tidak,” Jawab gubernur. “Lalu, bagaimana aku dapat makan roti dari gandum? Kecuali bila itu bisa dengan mudah didapat oleh seluruh rakyatku.” Tambah Umar.
Dalam kesempatan lain Umar berpidato di hadapan suatu pertemuan. Katanya, “Saudara-saudara, apabila aku menyeleweng, apa yang akan kalian lakukan?” Seorang laki-laki bangkit dan berkata, “Anda akan kami pancung.” Umar berkata lagi untuk mengujinya, “Beranikah anda mengeluarkan kata-kata yang tidak sopan seperti itu kepadaku?” “Ya, berani!” jawab laki-laki tadi. Umar sangat gembira dengan keberanian orang itu dan berkata, “Alhamdulillah, masih ada orang yang seberani itu di negeri kita ini, sehingga bila aku menyeleweng mereka akan memperbaikiku.”

Seorang filosof dan penyair Muslim tenar dari India menulis nukilan seperti berikut untuk dia:Jis se jigar-i-lala me thandak ho who shabnam Daryaan ke dil jis se dabel jaen who toofan
Seperti embun yang mendinginkan hati bunga lily, dan bagaikan topan yang menggelagakkan dalamnya sungai.
Sejarawan Kristen Mesir, Jurji Zaidan terhadap prestasi Umar berkomentar: “Pada zamannya, berbagai negara ia taklukkan, barang rampasan kian menumpuk, harta kekayaan raja-raja Parsi dan Romawi mengalir dengan derasnya di hadapan tentaranya, namun dia sendiri menunjukkan kemampuan menahan nafsu serakah, sehingga kesederhanaannya tidak pernah ada yang mampu menandingi. Dia berpidato di hadapan rakyatnya dengan pakaian bertambalkan kulit hewan. Dia mempraktekkan satunya kata dengan perbuatan. Dia mengawasi para gubernur dan jenderalnya dengan cermat dan dengan cermat pula menyelidiki perbuatan mereka. Bahkan Khalid bin Walid yang perkasa pun tidak terkecuali. Dia berlaku adil kepada semua orang, dan bahkan juga bagi orang non-Muslim. Selama masa pemerintahannya, disiplin baja diterapkan secara utuh.”

Senin, 12 Juli 2010

PEMBINAAN OSIS

Siap Membina Siswa, Menghadapi Tuntutan Zaman"


Keterangan foto: Kepala Dinas Pendidikan Bukittinggi, Sumatera Barat,

ketika membuka acara Workshop Pembina OSIS.

(Foto: Abdul Haris Monoarfa)



Potensi Volume XI No. 3, Mei-Juni 2009

Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) merupakan salah satu unsur penting dalam menunjang lancarnya proses belajar mengajar di sekolah. Melalui OSIS program-program baik ekstrakurikuler maupun intrakurikuler, berjalan seirama dalam menciptakan suasana belajar yang nyaman,

kondusif dan penuh semangat.



Melihat begitu pentingnya kegiatan OSIS, pada April 2009, bertempat di Hotel Pusako, Buktitinggi, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas melaksanakan Workshop Pembinaan Kesiswaan. Workshop ini bertujuan untuk menyusun Panduan Teknis Pembina OSIS Sekolah Menengah Atas, dan merupakan penjabaran dari pedoman pembinaan kesiswaan yang telah disusun sebelumnya. Workshop ini juga merupakan tindaklanjut dari kegiatan sebelumnya, yaitu Rapat Kerja Pembina Kesiswaan yang telah menghasilkan Pedoman Pembinaan Kesiswaan untuk Sekolah Menengah Atas.



Memiliki Materi yang Matang

Dalam kata sambutannya, Kepala Dinas Pendidikan Sumatera Barat, Drs.Burhasman, MM, mengatakan sekolah sebagai salah satu tempat untuk mempersiapkan diri secara intelektual, emosional, dan sosial, sebaiknya memiliki materi yang matang. “Kita melihat kelak para siswa kita akan hidup pada zaman yang tidak mudah, mereka akan hidup pada zaman yang penuh dinamika, penuh tantangan, penuh konflik. Mereka dituntut harus bisa membekali diri untuk mengisi solusi-solusi kehidupan nantinya. Nah, oleh karena itu peran kegiatan kesiswaan dalam menjembatani dan mengenalkan persoalan-persoalan yang mereka hadapi sangat diperlukan.” Ujarnya.



Itu sebabnya, demikian Burhasman kembali, ketika Permen Diknas No 39 tahun 2008 ditetapkan, di sana ada komponen yang bisa dijadikan binaan kesiswaan, dan bisa dikembangkan ke dalam berbagai hal. Di sinilah peran pembina OSIS sangat

besar. Dengan adanya kegiatan ini, sebagai pembina OSIS diharapkan mampu menghadapi tantangan, persoalan, dan kompetisi. Melalui kegiatan ini pula para pembina bisa memberikan warna pada para siswa. Jika tidak, dalam posisi sebagai guru maupun orangtua, akan dilingkupi rasa khawatir terhadap kehidupan siswa saat ini. “Maka tidak ada jalan lain, sekolah harus bisa memfasilitasi mereka untuk bisa menyikapi diri yang sesungguhnya. Oleh karena itu, di sini diperlukan kepiawaian dalam menanganinya. Kepiawaian itu mencakup kognitif, dan intelektual, termasuk dalam menyiapkan kurikulumnya, sehingga secara ilmiah siswa siap menghadapi tuntutan jaman.” Tambahnya.



Secara emosi dan sosial, pembina OSIS juga harus menyiapkan siswa untuk bisa memasuki kehidupan yang penuh dinamika ini. “Oleh karena itu, kalau pembinaan OSIS secara optimal melaksanakan tugas pokok dan fungsinya di sekolah untuk memback up pelaksanaan dan pengembangan kurikulum, maka saya kira para siswa kita akan lahir sebagai sumber daya manusia yang luar biasa. Melalui forum ini kami berharap ada ide-ide atau hal-hal yang bisa kita diskusikan untuk melengkapi, dan menambah potensi yang sudah ada selama ini. Sehingga siswa betul-betul paham secara emosi, sosial dan spiritual.” Ujarnya. “Pembina OSIS bisa menjadi jembatan antara seni dan olahraga. Seni bisa menjadi salah satu kebanggaan sekolah, olahraga pun begitu. Begitu juga dengan OSN. Kebanggaan-kebanggaan itu bisa dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi sangat dinamis dan sangat sehat di sekolah.” Katanya kembali.



Bukan Kegiatan Iseng-iseng

Di acara yang sama, Prof. Dr. Indra Djati Sidi juga mengungkapkan kalau kegiatan kesiswaan is as important as kegiatan akademik. Menurutnya, kegiatan ini bukan sekedar kegiatan yang iseng-iseng belaka, bukan cuma kegiatan untuk rekreasi saja, kita harus bisa mengatakan bahwa kegiatan kesiswaan merupakan kegiatan yang tidak terpisahkan dalam upaya kita untuk meningkatkan mutu pendidikan. “Oleh karena itu, kegiatan kesiswaan sangat penting,” tekannya.



Pentingnya kegiatan kesiswaan ini dipaparkan mantan Dirjen Departemen Pendidikan Nasional dengan memberi contoh pola-pola pembelajaran yang pernah dialaminya saat berada di Amerika dan mengajar di ITB. Di Amerika, menurutnya, ada mata kuliah olahraga. Itu sebabnya, ia juga mewajibkan di ITB untuk diadakan mata kuliah tersebut. Intinya, pelajaran olahraga dan seni penting, jadi bukan hanya sains saja yang harus memperoleh porsi perhatian yang lebih.



Dalam penjelasannya, kesiswaan bukan yang formal, kesiswaan harus melebur, dia bergaul dengan siswanya. Jadi organisasi kesiswaan atau OSIS adalah alat untuk mencapai tujuan, dan tujuannya adalah untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas buat mereka. Organisasi OSIS merupakan sebuah sistem, mekanisme dan cara yang digunakan manusia untuk mencapai tujuan bersama yang direalisasikan dalam visi dan misi yang jelas.



OSIS Nafas Sekolah

Menanggapi keikutsertaannya pada workshop ini, Armanisah S.Ag guru Bahasa Arab dari SMAN 9 Tunas Bangsa Aceh, berpendapat kalau pembinaan OSIS yang diadakan Direktorat Kesiswaan cukup penting. Menurutnya, nafas sekolah terletak di OSIS, sebab segala bentuk kegiatan, OSIS-lah yang berperan. Ia memberi contoh di bagian pengajaran, ketika ada cerdas cermat, ketika ada perlombaan, otomatis OSIS yang harus berperan untuk mencari siswa-siswa di bidang ini. “Apalagi berbagai kegiatan yang diadakan di sekolah, tolak ukurnya adalah OSIS.” Ujarnya.



Melalui forum ini, Armanisah berharap dirinya bisa melihat perkembangan OSIS di sekolah-sekolah dari provinsi lain. Event seperti ini diikuti oleh SMA seluruh Indonesia, mungkin saja ada masukan positif yang bisa dipetiknya. “Apakah yang kami laksanakan di sekolah sesuai dengan kurikulum nasional. Dengan adanya forum ini kami lebih terfokus.” Harapnya.



Pendapat senada juga diberikan Zubir S.Pd, guru SMAN 2 Pariaman Sumatera Barat. Melalui workshop pembinaan OSIS ini, ia berharap memperoleh terobosan-terobosan dan pemikiran-pemikiran baru yang bisa digunakan nantinya. Hal-hal berkaitan dengan OSIS yang lebih riil dan menyentuh, akan ia terapkan di sekolahnya. “Mungkin secara teori bisa kita temukan hal-hal baru yang dapat kita pakai di daerah. Masing-masing daerah punya pengalaman yang berbeda-beda. Dari situlah kita nanti memperoleh wawasan baru.” Katanya



Sedangkan Hendri Tuhusula guru SMAN 10 Ambon, menjelaskan, kalau sekolahnya dalam perkembangan terakhir ini sudah berusaha menyesuaikan segala kegiatan OSIS yang mengacu pada Permen yang baru. Dengan mengikuti kegiatan ini, ia merasa bisa menimba pengalaman dari para nara sumber maupun teman-teman dari daerah lain yang sudah lebih maju atau lebih berpengalaman. “Sehingga nantinya jika kami kembali ke daerah masing-masing, kami bisa implementasikan ke para siswa. Apa yang lebih kita teliti lagi dan kurang kita perbaiki. Tujuannya untuk membina siswa agar lebih lebih maju lagi,” terangnya.



Untuk Nusa Tenggara Timur, tepatnya kota Kupang, Drs. Ridzart M.Hanukh guru SMAN IV Kupang, telah memprogramkan berbagai kegiatan OSIS di se. Contohnya dengan melaksanakan program pertukaran siswa dengan Australia. Melalui workshop ini ia berharap bisa memperoleh masukan yang lebih lagi.



Dari kegiatan workshop ini, Nur Hidajati SH, guru SMA Muhammadiyah I Gresik, merasa memperoleh perkembangan baru untuk membina siswa di sekolahnya. Menurutnya, selama ini, kegiatan kesiswaan khususnya OSIS di sekolahnya su¬dah berjalan dengan baik. Bahkan, dikegiatan ekstrakurikuler, Desember 2008 lalu, anak didiknya masuk dalam rekor MURI un¬tuk bidang seni. Mereka mementaskan 15 naskah teater dengan 110 pemain. Selain seni, sekolahnya juga menonjol di bidang olahraga. “Nah dengan adanya pembinaan OSIS ini saya punya keinginan untuk memberikan pemahaman yang lebih mantap lagi pada para siswa. Karena ini kan ada kekuatan yang resmi dari pemerintah.” Ujarnya.



Selain merasa bersyukur, Sutrisno S.Pd, Wakasek Kesiswaan SMAN I Pamekasan merasakan sekali manfaat yang diperolehnya dari workshop pembinaan OSIS kali ini. “Saya berterimakasih ada kegiatan seperti ini, apalagi saya sudah hampir 4 tahun menjadi pembina kesiswaan. Jadi dengan kegiatan ini, siswa-siswa bisa lebih berkembang lagi. Lima puluh persen dari yang sudah diprogramkan di kegiatan ini telah kami laksanakan di sekolah.

Penjelasan Pak Indra Djati sangat bagus, saya terinpirasi untuk melaksanakannya di sekolah nanti.” Janjinya.

Menurut Rahmat Hidayat S.Pd, guru SMAN I Batu Sangkar Tanah Datar, Sumbar, kegiatan workshop sangat berguna. Selain bisa menambah wawasan, kegiatan semacam ini juga bisa memberi masukan yang positif bagi sekolahnya. “Penjelasan dari Pak Indrajati membuat kita sadar kalau kita masih banyak memiliki kekurangan. Seperti yang dikatakan pak Indra, kita harus berani mencoba. Masalah berat akan menjadi ringan kalau kita mau mengerjakannya. Intinya, kita harus kreatif.” Tegas Rahmat.



Selain memperoleh banyak masukan, Sakhoni S.Pd, guru SMAN 6 Samarinda Kaltim, juga merasakan workshop pembina OSIS memberikan banyak wacana. “Setelah kembali mungkin kami akan menginformasikan kepada teman-teman guru mengenai hasil yang kami peroleh. Karena pembina OSIS, kan sebatas pada tugas pokoknya, tetapi dalam struktur organisasi kesiswaan sebenarnya tidak hanya ada satu pembina. Hampir setiap guru adalah pembina. Selain itu, fungsi guru bukan hanya sebatas di sekolah saja, ia bisa menjadi orangtua sekaligus sahabat.” Jelasnya.



Di akhir kegiatan worshop, Ishak Suleman, S.Pd dari SMAN 44 Gorontalo merasakan kegiatan pembinaan Osis ini memberi¬kan motivasi bagi ia dan rekan-rekannya untuk membina siswa-siswa di sekolah asal. “Kami memang memiliki kendala di dalam pembinaan OSIS, terutama yang berkaitan dengan akademik dan eskul. Mungkin eskul dianggap kegiatan yang menggang¬gu, karena setiap sekolah selalu nilai-nilai akademik yang diuta¬makan. Untuk ke depannya, saya bertekad agar kegiatan eskul bisa berjalan sesuai dengan yang diharapkan Mendiknas.”



Di akhir kegiatan workshop, Drs. Mukhlis Catio M.Ed berpesan, apa pun yang akan kita lakukan, segalanya memang tergantung dari niat. Asal ada niat pasti terwujud.



Dari hasil workshop kali ini akan dibuat panduan Pembina OSIS Sekolah Menengah Atas. Panduan ini bersifat lebih teknis dan implementatif, disesuaikan dengan kebutuhan sekolah, situasi, sarana, dan fasilitas yang tersedia. Penyusunan panduan ini melibatkan Sekolah Kategori Mandiri (SKM) dan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) serta beberapa sekolah regular dari seluruh Indonesia.

Senin, 12 April 2010